Menemu Kekaguman (Verse 1)

Hari itu biasa saja, mentari masih dengan teriknya datang dan menyapa. Tetap suasana panas Jakarta aku tembus hanya berbalut kaos dan celana jeans padahal malamnya ada rencana menginap, jika jadi maka ini akan menjadi pengalaman pertama bagiku menginap di museum. Tidak menyeramkan kok ternyata. Sampai di tujuan aku masuk dan melihat-lihat semua apa yang tersaji disana mulai dari kumpulan komunitas perpustakaan seluruh Indonesia, penjualan buku dan pertunjukkan kesenian yang memukau mata.

Tapi jujur -dan sebelumnya minta maaf pada semua- itu tidak berbekas dalam hatiku, hanya satu tertanam dalam pikiran dan ingin segera kutuntaskan semua rasa penasaran tersebut. Tidak terlupakan sedikitpun, malam hingga dini hari hal tersebut yang paling ingin kulakukan. Bukan aku lapar hingga berhasrat makan, bukan aku ngantuk hingga tak sabar ingin tidur, bukan pula aku kebelet hingga ingin ‘BAB’, semua itu salah. Aku hanya ingin cepat-cepat duduk di kursi kerja ku di kantor menghadap monitor komputer ku yang paling setia, pekerjaan tidak sedang menungguku dia (pekerjaan) cukup toleran dan mengerti bahwa aku sedang mengusahakan cinta yang baru.

Cinta; selalu membuatku terbuai, membawaku ke alam mimpi dan tidak jarang membuat terjatuh hingga terluka parah bahkan pernah hancur serta hampir saja tidak bisa direkatkan. Ah sudahlah itu masa lalu, harus cepat dilupakan dan dihilangkan walaupun kadang aku masih suka teringat (kenapa sih?).

Saat siang aku memutuskan bertahan dalam bangunan itu meskipun acara tidak seseru beberapa menit sebelumnya namun cuaca yang kurang bersahabat memaksaku untuk tetap didalam naungan tembok berumur lawas tersebut. Entah, Tuhan coba memberikan tanda padaku (ke-pede-an) atau hanya kebetulan. Aku melihat, aku mendengar dan aku mendapat pengisi hatiku yang telah lama hampa.

Diskusi baru saja selesai. Meskipun ada fasilitas hotspot (internet memang favoritku) tapi itu tidak bisa mengikatku padahal telah ditambah dengan adanya diskusi salah satu tokoh fiksi populer selang lima menit lagi. Aku berdiri dilanjutkan berjalan-jalan untuk kesekian kalinya mengitari puluhan stan di salah satu museum perbankan di wilayah kota tua Jakarta. Terdengar sayup suara dari jauh bahwa acara telah dimulai, tidak jelas tapi sepertinya didominasi oleh kaum. Gak jauh sih berkeliling ruangan itu tapi setelah berulang-ulang akhirnya lelah datang juga. “Ya sudah balik ke tempat semula sekalian internetan lagi,” tukas ku dalam hati.

Duduk!! Menyalakan laptop, langsung menuju firefox untuk browsing.

Jariku terhenti pada huruf ketiga, pandangan tertahan tepat 30 derajat kearah kiri. Seorang sosok menarik perhatianku. Dia tidak sedang berbicara pun tidak menari, saat itu dia sedang berdiri berbalut kaos hijau dengan tatanan yang sangat simpel. Tapi tingkahnya. Hmmmmm membuat hatiku berdecak dan bergerak melihat tingkahnya yang lincah, riang, lucu dan emang dia manis sih :D .

Damn!! Haruskah aku menyesal tidak jadi ikut diskusi ini dari awal.

“Coba nyimak dari awal, mungkin aku akan semakin tahu tentang dirinya,” pikir ku
“bukankah biasanya kalo pembicara selalu dikenalkan di awal acara,” kembali ku mengeluh pada hati
“tapi sepertinya tidak, mungkin karena sedikit waktu itu yang membuatnya menjadi begitu berbekas dalam neuron-neuron otakku dan terbentuklah persepsi indah tentangnya,” ku akhiri monolog tersebut.

Post a Comment